Setiap pagi, bukan hanya dimulai dengan terbitnya fajar tapi juga rasa khawatir selalu menemuiku tiap ku terbangun. Sinar matahari yang terang bahkan terasa tak cukup menerangi gelapnya fikiranku.
Mengapa aku sepecundang ini?
Membiarkan diri terikat rasa takut, kecewa. Aku tidak bisa melakukan hal-hal yang kumau. Aku tidak mendapat hal-hal yang kumau. Banyak orang disekitarku, tapi aku merasa kesepian. Aku benci mengakui rasa ingin semua pergi.
Aku si pecundang kesepian yang tak ingin siapapun disekelilingnya.
Semua orang tampak menakutkan.
Aku benci mengakui selama ini yang kulakukan hanya ingin mengesankan orang lain. Aku sakit karna tak ada satupun kesan yang kudapat. Aku buruk, semua terasa pura-pura. Aku minta maaf, teman, keluarga, diriku. Aku pengecut tak berani mengakui kelemahanku. Aku hanya bersembunyi dengan semua hal baik yang telah kulakukan.
Sepertinya tak ada satupun yang kulakukan berharga. Hanya kesalahan yang selalu kulakukan. Tidak, atau bahkan aku tak melakukan apapun. Aku hanya mengurung diriku dan terbenam di dalamnya. Justru kesalahan terbesarku saat semua kesempatan itu tak kuambil.
Saat aku hanya bertindak bodoh dan tak bertujuan. Aku tahu aku hanyalah pecundang. Menginginkan banyak hal tapi takut memulai. Memimpikan banyak hal tapi takut terbangun. Aku pecundang tak berguna.
Harapan-harapanku hanya bisa kubiarkan berterbangan di fikiranku. Tak bisa, aku tak bisa menyusahkan orang lain karena harapanku. Aku hanya beban yang dilimpahi banyak kenikmatan.
Kini, setidaknya saat aku tak bisa membanggakan, aku hanya ingin tak merugikan. Kumohon, aku tidak mau membebani lagi. Terutama terhadap orang-orang yang seharusnya kuncintai dan mencintaiku. Aku harus bertahan dengan ketidakbecusanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar